Sabtu, 04 September 2010

belajar dari Nabi Ibrahim

bismillaahirrahmaanirrahiim...

saya suka sejarah. terutama shiroh nabi dan rosul serta para sahabat (karena sumbernya jelas dan otentik dari Al-Qur'an dan Sunnah). dan saya kagum dengan para penulis yang dapat membahasakan serta mengambil hikmah dari shiroh dengan sangat indah. misalnya ust. Salim A.Fillah, ust. Anis Matta, ust. Hepi Andi Bastoni, Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban, dll.


tulisan ini saya ambil dari sebuah buku karya ust. Anis Matta, judul bukunya "Demi Hidup Lebih Baik".



Perjalanan Sejarah Tauhid dan Pengorbanan

Bumi yang sekarang dihuni oleh sekitar enam miliar manusia, pada awalnya hanya dihuni oleh dua orang manusia saja. Adam dan Hawa. Kemudian Hawa melahirkan sebanyak 40 pasang. Lalu jumlah manusia terus bertambah. Dari awalnya sepasang, lalu terbentuk keluarga dan terbangun suku, lalu kabilah dan bangsa. Pada setiap tahapan pertumbuhan tersebut, selalu ada nabi.

Pada masa pertumbuhan selanjutnya, setelah Nabi Adam adalah Nabi Idris, dan banyak lagi nabi-nabi yang tidak disebutkan. Sampailah kita pada periode Nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun. Dan hasil dari dakwah selama itu adalah, bumi ini ditenggelamkan oleh Allah SWT. Lalu muncullah keluarga-keluarga baru dan nabi-nabi baru pula. Seluruh peristiwa ini, terjadi di daerah yang kini kita menyebutnya sebagai Timur Tengah. Dan inilah wilayah tertua di dunia.

Lalu sampailah peradaban manusia pada masa Nabi Ibrahim. Beliau lahir di sebuah kampung bernama Azan di dekat sungai Tigris di wilayah Irak, sekarang. Dan kita mengetahui bagaimana cerita pencarian kebenaran Nabi Ibrahim tentang Tuhan dan Pencipta Alam. Sampai ia berhadapan dengan Raja Namrud dan juga ayahnya yang mengantarkan Nabi Ibrahim terusir dari Irak.

Syam adalah tujuan perjalanan Nabi Ibrahim. Wilayah yang bernama Syam, kini terbagi setidaknya menjadi empat negara; Syiria, Jordan, Palestina, dan Lebanon. Dan di sana Ibrahim bertemu dan menikah dengan Sarah. Seorang perempuan paling cantik yang pernah turun ke bumi. Tapi, pernikahan ini tak kunjung dikaruniai seorang anak, bahkan sampai Nabi Ibrahim berumur 80 tahun.

Ibrahim kembali melakukan perjalanan dakwahnya hingga ke Mesir. Di negeri ini, Nabi Ibrahim berdakwah pada kerajaan yang ada di sana. Mulanya, karena kecantikannya, sang raja hendak mengganggu Sarah. Tapi karena kewibawaan sang nabi, sang raja pun segan bahkan menjadi sangat patuh kepada Nabi Ibrahim. Karena kecintaannya pada Nabi Ibrahim, kemudian sang raja menghadiahkan salah seorang putrinya bernama Hajar.

Karenanya, sama sekali tak benar bila ada yang menyebut Hajar adalah seorang budak perempuan hitam. Karena tidak boleh ada nabi yang lahir dari seorang perempuan atau ibu seorang budak. Lalu ketiganya kembali ke Syam, dan lahirlah seorang anak dari rahim Hajar, yakni Ismail. Ketika baru usai persalinan, Nabi Ibrahim dan Hajar diperintahkan Allah untuk melakukan perjalanan ke Jazirah yang sekarang kita mengenalnya sebagai kota Mekah. Dalam Al-Qur’an, lembah ini disebut sebagai lembah yang tak ada tumbuhannya.

Mari bersama kita bayangkan, sebuah keluarga yang istrinya baru melahirkan anak, diperintahkan untuk pergi ke sebuah lembah yang tak satupun tumbuhan hidup di atasnya. Dan bukan hal yang ringan pula bagi Nabi Ibrahim. Ia menunggu anak selama 80 tahun, setelah mendapatkannya, kemudian ia diperintahkan untuk ke sebuah lembah nan asing. Dan setelah sampai di sana, Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya seorang diri. Di sebuah lembah yang tak ada tumbuhan, tak pula manusia.

Ketika Nabi Ibrahim mengatakan akan pergi, istrinya Hajar bertanya padanya. “Hendak ke mana engkau wahai suamiku?” Tapi Nabi Ibrahim tidak menjawab pertanyaan itu. Ini sebuah pertanyaan yang pasti tidak bisa terjawab oleh Nabi Ibrahim, karena semua alasan takkan bisa diterima oleh akal dan bisa dipersalahkan. Menyadari hal ini, Hajar yang memiliki kualitas sebagai istri seorang nabi cepat menyadari, bahwa pertanyaannya salah.

Kemudian ia mengubah pertanyaannya, “Apakah kepergianmu adalah perintah dari Allah?” Dan Nabi Ibrahim pun menjawabnya, “Ya.” Maka Hajar pun kembali menunjukkan kualitasnya sebagai istri seorang nabi. Dengan yakin dan mantap, Hajar mengatakan, “Jika begitu Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami di sini.” Dan lalu bermulalah sejarah ditemukannya air zam-zam, sa’i, dan ritual ibadah haji.

Singkat cerita, baru setelah 13 tahun kemudian, Nabi Ibrahim kembali ke Mekah. Tapi ujian yang sesungguhnyam rupanya baru dimulai. Ketika baru saja sampai, ia diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Mari kita kembali membayangkan. Umurnya lebih 80 tahun ketika mendapat bayi Ismail. Tapi, sebelum sampai menikmati kebahagiaannya, ia sudah diperintahkan untuk pergi berdakwah. Setelah 13 tahun terpisah, dengan anak dan istrinya di Mekah, saat ia kembali di usianya yang ke-93, tiba-tiba Allah memerintahkannya untuk menyembelih sang anak.

Ini belum lagi ditambah variabel wahyu yang disampaikan hanya lewat mimpi saja. Dalam struktur turunnya wahyu, cara melalui mimpi adalah cara dengan level yang lebih rendah di antara cara-cara yang lain, seperti disampaikan langsung oleh Allah seperti yang terjadi pada Musa, atau melalui Jibril dan yang lainnya.

Setelah membayangkan diri berada pada posisi Nabi Ibrahim, kini mari kita menempati posisi sebaliknya, sebagai Ismail. Ia kini telah beranjak remaja, besar di lembah gersang dan asing, tanpa asuhan seorang ayah. Tapi kini, ketika ia sudah besar, tiba-tiba datang seorang lelaki mengatakan diri sebagai ayahnya, dan hendak menyembelihnya. Jika kita menjadi Ismail, tentu bukan kesediaan seperti yang tercatat dalam sejarah yang akan terjadi. Tapi beribu penyangkalan dan perlawanan.

Tapi semua berjalan seperti yang sudah digariskan. Inilah sejarah tauhid. Bukan sejarah logika, apalagi sejarah nafsu kuasa. Sejarah tauhid memilih sendiri bahasa yang akan digunakannya. Karena itu, bukan sebuah kebetulan jika Nabi Ibrahim mendapat julukan Bapak Para Nabi, karena ujian dan cobaannya yang ia terima memang melebihi nabi-nabi lainnya.

Setelah peristiwa sejarah tauhid tersebut, Nabi Ibrahim, Ismail, dan Hajar diperintahkan untuk membangun Ka’bah, sebagai monumen tauhid. Dan dalam proses pembangunan itu, Nabi Ibrahim berdoa. “Ya Allah, jadikan hati-hati umat manusia seluruhnya memiliki kecenderungan yang kuat ke tempat ini. Ya Allah, jadikan negeri ini aman dan berikanlah rezeki kepadaku dari langit.”

Dan kini kita mengetahui, bagaimana setiap tahun, Allah menjawab dan menjadikan do’a Nabi Ibrahim sebagai abadi. Setiap tahun, berjuta-juta manusia berduyun-duyun memenuhi panggilan untuk berhaji.

Dari Nabi Ismail, turun sebelas orang anak. Dan dari sebelas orang anak, turun 21 generasi sampai pada generasi yang disebut dengan Generasi Adnan. Dan dari Generasi Adnan, turun lagi 21 generasi sampai pada Rasulullah Muhammad saw. Jadi, jarak antara Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah 42 generasi. Tapi setiap generasi tidak bisa kita hitung dengan hitungan umur generasi saat ini.

Sedangkan garis keturunan Sarah melahirkan Ishaq yang menurunkan Ya’kub, Yusuf, dan seterusnya sampai berhenti pada Nabi Isa as. Jarak antara Nabi Isa sampai pada Nabi Muhammad, lama tak kurang dari hitungan 600 tahun. Dan selama itu tidak ada masa kenabian, masa kekosongan yang disebut masa fatrah. Dan sesudah Nabi Muhammad, tidak akan pernah ada lagi seorang nabi.

Ketika Rasulullah Muhammad dilantik sebagai seorang rasul, kira-kira bumi ini telah dihuni oleh sekitar 100 juta manusia yang tersebar baru di tiga benua, Asia, Afrika, dan Eropa. Sejak diangkat hingga mangkat, Rasulullah bekerja sebagai seorang nabi dan rasul selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Dan sepanjang masa itu, hasilnya, umat manusia yang memeluk Islam sebanyak 100 ribu sampai 125 ribu manusia. Jumlah inilah yang berhaji dengan Rasulullahdalam Hajatul Wada (haji perpisahan). Coba bandingkan jumlah manusia yang memeluk Islam dengan jumlah manusia seluruhnya pada masa itu.

Dari jumlah muslim di atas, yang dianggap sebagai ulama, tak kurang dari 100 sampai 110 orang saja. Dan dari 100 orang itu, yang dianggap sebagai ulama besar hanya tujuh orang saja. Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib. Tiga orang Abdullah; Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Mas’ud. Serta Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab. Dari tujuh orang inilah semua mazhab fiqih bermula dan berujung.

Ketika Utsman bin Affan menjadi khalifah, sudah ada beberapa sahabat yang telah sampai di tanah Cina. Dan jika kini kita berislam, itu tidak lain dan tidak bukan adalah karena para pengorbanan para sahabat-sahabat nabi dan para ulama. Saat ini, jumlah penduduk bumi kurang lebih ada enam miliar, dan jumlah umat Islam tak kurang dari 1,3 miliar manusia. Artinya sekitar 20% dari jumlah penduduk dunia.

Artinya, jika pada masa akhir Rasulullah, jumlah muslim sekitar 125 ribu di antara 100 juta manusia, dan kini 1,3 miliar di antara 6 miliar manusia. Artinya, ada grafik yang terus meningkat di kalangan muslim.

Jadi ketika dulu Nabi Ibrahim berkata, “Ya Allah, jadikan hati manusia rasa suka atau hasrat berkunjung ke tempat ini,” berapa jarak antara doa ini diucapkan dan dikabulkan? Berapa jarak antara do’a Nabi Ibrahim yang meminta rezeki untuk negeri itu dengan masa terkabulnya? Memang lama, tapi terlepas dari itu, garis grafik terus meningkat. Jumlah manusia yang mengikuti jalannya, terus bertambah dari waktu ke waktu. Doa ini menembus waktu, dikabulkan sepanjang waktu.

Apa yang menjelaskan itu semua? Yang menjelaskan itu semua adalah pengorbanan. Pengorbananlah yang menjadikan jawaban. Sebesar apa pengorbanan yang kita keluarkan untuk sesuatu yang kita yakini, maka semakin besar pula jawaban yang akan kita terima nanti. Semakin besar kita berkorban, maka semakin besar nampak yang akan kita terima nanti. Kunci pertumbuhan yang berkesinambungan adalah pengorbanan dalam amal usaha yang dilakukan.

Pengorbananlah yang menentukan umur dari amal usaha yang kita lakukan. Pengorbanan, itulah yang dilakukan oleh orang-orang besar dalam sejarah-sejarah besar, yang hidup bahkan hingga sekarang. Ingat itu!

wallaahua’lam bishshawwab...

2 komentar:

  1. ada buku baru karya tasaro, katanya novel tapi ttg sejarah rasul.. kemaren liat di gramed, tp entah kenapa malah ga dibeli huhuhu..

    BalasHapus
  2. kemaren di bazaar juga ada.. ya, entah kenapa juga diriku tidak membelinya.. ^^v

    BalasHapus

Asmaul Husna

 

...Bermula dari Kata... Copyright © 2008 Black Brown Art Template designed by Ipiet's Blogger Template